Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Agustus 2010

Kebenaran Tercampakkan karena Kedengkian dan Kesombongan

Penulis: Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan

Nikmat-nikmat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala limpahkan kepada umat manusia tidak terhitung jumlah dan jenisnya. Di antara nikmat paling agung yang Allah Subhanahu wa Ta’ala limpahkan adalah diciptakan-Nya mereka di atas fitrah yang mulia. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
فِطْرَةَ اللهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا
“(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (Ar-Rum: 30)

Berhati-hatilah dari Fitnah dan Silaunya Dunia

Oleh Syaikh Abdul Wahhab Al Wushaby al Abdali
Wahai para penuntut ilmu, berhati-hatilah dari dunia. Hati-hati dari cinta dunia dan bergantungnya hatimu kepadanya. Sesungguhnya jika hati telah bergantung kepada dunia dan cinta kepada harta, akan sangat cepat tertipu dan cepat pula hilangnya ilmu dalam kehidupan dunia yang fana (bakal binasa) dan terkutuk ini. Sebagaimana penjelasan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dalam sabda beliau :
Dunia ini terlaknat dan dilaknat apa-apa yang ada padanya, kecuali dzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ketaatan kepadaNya, orang yang berilmu, dan orang yang belajar ilmu”. (HR At Tirmidzi dan Ibnu Majah dari shahabat Abu Hurairah Radhiallahu anhu) الدنيا ملعونة وملعون ما فيها الا ذ كر الله وما والاه و عالما ومتعلما (رواه الترمذى وبن ماجه عن ابى هريرة).

Bertutur Yang Baik dan Berwajah Yang Manis

Sekedar menampakkan yang berseri-seri serta bertutur yang baik sesungguhnya merupakan perkara ringan. Namun demikian, bagi sebagian besar kita hal itu seolah demikian berkat untuk diperhatikan. Yang memprihatinkan, gejala yang menimpa sebagian para penuntut ilmu agama di mana sikap mereka demikian kaku terhadap orang-orang awam.

Waktu, Nikmat Yang Terlalaikan

Detik demi detik waktu terus berlalu, tidak terasa umur kita sudah 10 tahun, kemudian 20 tahun, kemudian 50 tahun, dan seterusnya. Hari berganti hari, tanpa mampu kita mencegahnya. Sebagai insan yang beriman dan berakal, selayaknyalah kita mengevaluasi dan mengintrospeksi diri apakah waktu yang telah kita lalui, kita gunakan untuk hal-hal yang bermanfaat di dunia dan di akhirat, ataukah waktu itu kita buang sia-sia belaka, berlalu bak angin yang berhembus dan awan yang melintas.
Allah subhanahu wata’ala menyebutkan dalam ayat-Nya yang mulia:
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا.
“Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.” (Al-Furqan: 62)