Tampilkan postingan dengan label ILMU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ILMU. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 September 2010

I ‘ T I K A F, Adab-adabnya, hal-hal yang dibolehkan ketika i’tikaf, serta pembatal-pembatalnya

I ‘ T I K A F

Adab-adabnya, hal-hal yang dibolehkan ketika i’tikaf, serta pembatal-pembatalnya

Pada kesempatan kali ini, kami akan menyebutkan beberapa adab yang hendaknya diperhatikan dan diamalkan oleh para mu’takifin, agar itikaf yang mereka lakukan benar-benar mendapatkan nilai yang maksimal di sisi Allahsubnahahu wata’ala. Seiring dengan itu kami juga akan menyebutkan hal-hal yang dibolehkan bagi mu’takif ketika i’tikaf.

Selasa, 31 Agustus 2010

Bagaimana Seorang Wanita Yang Memiliki Udzur Syar’i Beribadah Pada Lailatul Qodar?

Sengaja kami dahulukan tulisan tentang Romadhon berikut ini, agar bisa diamalkan jauh-jauh hari sebelum datangnya waktu udzur, semoga ada faidahnya…
***
Oleh: Syaikhoh Sukainah bintu Muhammad Nashiruddin al-Albaniyyah hafidzohulloh
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله، والصلاة والسلام على خاتم رسل الله، وعلى آله وصحبه ومن اكتفى بهداه
Aku pernah bertanya kepada ayahku (al-Albani, pent) rohimahullohu ta’ala:
Bagaimana seorang wanita yang memiliki udzur syar’i beribadah pada lailatul qodar?

Minggu, 29 Agustus 2010

Keutamaan Lailatul Qadar

Buletin Islam Al Ilmu Edisi No: 35 / IX / VIII / 1431
Keutamaan Lailatul Qadar
Lailatul Qadar adalah suatu malam yang penuh dengan keutamaan dan barokah. Allah Subhanallahu wa Ta’ala Yang Maha Pemberi barakah telah menjelaskan hal itu dalam surat Al Qadr (artinya):
“Dan tahukah kamu apa malam lailatul qadar itu?. Yaitu suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turunlah para malaikat dan ruh (malaikat Jibril) dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh dengan kesejahteraan sampai terbit fajar.” (Al-Qadr: 2-5)
Sehingga malam itu pun dipenuhi barakah yang berlimpah ruah, sebuah ibadah yang dilakukan pada malam itu dengan ikhlas dan sesuai dengan petunjuk Nabi MuhammadShalallahu ‘alaihi wa Sallam lebih baik daripada ibadah yang dilakukan selama seribu bulan selain Ramadhan. Tentu keutamaan yang amat besar ini akan membuat hati yang jernih dan akal yang sehat terdorong dan berharap untuk dapat meraihnya.

Jumat, 27 Agustus 2010

Al Qur'an Bukan Untuk Hiasan Atau Ukiran

Banyak sekarang kita dapati di rumah – rumah kaum muslimin , di masjid – masjid ataupun dimajelis – majelis ukiran – ukiran atau kaligrafi – kaligrafi yang bertuliskan ayat –ayat Al Qur`an dan hadits – hadits nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ataupun Asmaul Husna yang digantungkan padanya . Pemandangan semacam ini bukanlah hal yang asing lagi ditengah –tengah kaum muslimin , wallahu a`lam apa tujuan mereka melakukan hal tersebut . Mungkin mereka menganggap yang demikian itu merupakan bentuk ibadah ataukah tujuannya untuk sebagai hiasan saja atau untuk menolak bahaya atau sebagai bentuk pengagungan mereka terhadap ayat –ayat Allah Subhanahu Wa Ta’ala ataupun untuk mencari barakah dan yang lainya .

Rabu, 25 Agustus 2010

PERINGATAN DARI BAHAYA SYIRIK (2)

Oleh Al Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray

Macam-macam Syirik
Pertama: Syirik dalam Uluhiyah (Ibadah)
Syirik dalam uluhiyah atau ibadah adalah mempersembahkan satu bentuk ibadah kepada selain Allah Ta’ala, baik ibadah yang zhahir maupun ibadah hati (batin). Inilah kesyirikan yang paling banyak tersebar di masyarakat. Macamnya pun sangat beragam, sebanyak bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala. Maka berikut ini kami akan memberikan sebagian contoh dari macam-macam syirik kepada Allah Ta’ala dalam ibadah.

PERINGATAN DARI BAHAYA SYIRIK (1)

Oleh Al Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray

Ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan hikmah dari penciptaan manusia dan jin, hal ini ditegaskan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi–Ku makan. Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi Rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kukuh.” (Adz-Dzariyat: 56-58)

Perlukah Menghentikan Aktifitas Lain Selama Bulan Romadhon Khusus Untuk Membaca al-Qur’an Saja?

Oleh: Syaikhoh Sukainah bintu Muhammad Nashiruddin al-Albaniyyah hafidzohalloh

بسم الله الرحمٰن الرحيم
الحمد لله وحده، والصَّلاة والسَّلام عَلىٰ مَن لا نبيَّ بَعْدَه
أمّا بعد
Aku pernah bertanya kepada ayahku (Syaikh al-Albani rohimahulloh, pent) yang secara ringkasnya:
Aku membaca bahwa sebagian Imam jika telah masuk bulan Romadhon, mereka memutus aktivitas hanya untuk membaca al-Qur’an saja, walaupun mereka adalah ulama yang memberi fatwa kepada orang-orang, maka merekapun menghentikan aktivitasnya walaupun untuk berfatwa kepada orang-orang. Apakah ini benar? Apakah aku perlu mengkhususkan bulan Romadhon ini untuk membaca al-Qur’an saja dan aku tinggalkan aktifitas membaca hadits beserta syarahnya, kajian-kajian dan yang selainnya?

Orang-Orang Yang Dibolehkan Tidak Berpuasa Ramadhan

Oleh Ust. Jafar Salih

Tatkala puasa Ramadhan merupakan sarana untuk menggapai ketakwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, dan keberuntungan dengan surga, serta maslahat-maslahat lainnya seperti penyucian jiwa, maka Allah Subhanahu Wa Ta'ala mensyariatkan kepada orang-orang yang tidak dapat melaksanakannya karena suatu udzur syar’i untuk menggantinya dengan berpuasa di hari yang lain, dan yang lainnya dengan membayar fidyah. Hal ini agar maslahat puasa dapat dirasakan oleh setiap hamba-hamba-Nya yang beriman. Demikianlah Allah Ta’aala permudah jalan untuk mereka yang ingin menggapai keridha’an-Nya. Allah Ta’aala berfirman,

Keutamaan Malam Seribu Bulan

Penulis: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc

Malam Lailatul Qadar adalah malam yang dimuliakan Allah. Allah menamainya dengan Lailatul Qadar, menurut sebagian pendapat, karena pada malam itu Allah mentakdirkan ajal, rizki dan apa yang terjadi selama satu tahun dari aturan-aturan Allah . Hal ini sebagaimana Allah  firmankan:
Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. (Ad Dukhan: 4)

Selasa, 24 Agustus 2010

10 TERAKHIR RAMADHAN DAN LAILATUL QADAR


(Mengenali dan Meraih Keutamaannya)

Segala puji hanya bagi Allah, yang telah menyampaikan kita dipenghujung 10 hari kedua bulan Ramadhan. Sebentar lagi kita akan memasuki 10 ketiga atau terakhir bulan Ramadhan. Hari-hari yang memiliki kelebihan dibanding lainnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada 10 terakhir Ramadhan ini meningkat amaliah ibadah beliau yang tidak beliau lakukan pada hari-hari lainnya.

Minggu, 22 Agustus 2010

Nasehat Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah

www.assalafyPara pembaca rahimakumullah,
Telah diulas pada edisi yang lalu kisah kehidupan seorang ‘alim yang sangat bersemangat di dalam menuntut ilmu dan beribadah. Juga tentang kesabarannya yang luar biasa di dalam menghadapi berbagai ujian demi mempertahankan aqidah Ahlus Sunnah.
Guru beliau, Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Aku keluar dari ‘Iraq. Dan tidaklah aku tinggalkan di kota tersebut seseorang yang paling utama, paling berilmu, paling wara’ dan paling bertakwa daripada Ahmad bin Hanbal.”

Tafsir Ibnu Katsir Salah Satu Kitab Tafsir Al Qur'an Terbaik

Penulis: Al-Ustadz Ahmad Hamdani Ibnu Muslim

Sesungguhnya memahami Kalamullah adalah cita-cita yang paling mulia dan taqarrub (pendekatan diri kepada Allah) yang paling agung. Amalan ini telah dilakukan shahabat, tabi’in dan murid-murid mereka yang menerima dan mendengar langsung dari guru-guru mereka. Kemudian dilanjutkan oleh generasi berikutnya yang mengikuti jejak mereka hingga hari kiamat.

Keutamaan Malam Seribu Bulan

Penulis: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc

Malam Lailatul Qadar adalah malam yang dimuliakan Allah. Allah menamainya dengan Lailatul Qadar, menurut sebagian pendapat, karena pada malam itu Allah mentakdirkan ajal, rizki dan apa yang terjadi selama satu tahun dari aturan-aturan Allah . Hal ini sebagaimana Allah  firmankan:
Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. (Ad Dukhan: 4)

Hikmah Ilahi di Balik Musibah Gempa Bumi dan Tsunami

Penulis: Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah
Orang-orang berbeda pendapat dalam (menjelaskan penyebab terjadinya) gempa. Ada yang mengatakan bahwa gempa merupakan peristiwa yang bersifat alami, tidak ada kaitannya dengan agama. Sebagian lainnya mengatakan bahwa gempa merupakan ketentuan dan taqdir Allah Subhanahu wa Ta'ala yang tidak ada kaitannya dengan dosa. Ada lagi yang mengatakan bahwa gempa merupakan kejadian untuk membuat takut manusia dan tiada kaitannya dengan dosa. Sebagian lagi mengatakan bahwa gempa terjadi disebabkan oleh dosa manusia.

Kamis, 19 Agustus 2010

Kemuliaan Rasa Malu

Oleh: Abu Muhammad Abdul Mu’thi Al Maidani

Rasa malu merupakan sifat yang mulia, warisan dari para nabi ‘alaihimus salam. Oleh karena itu, Sifat yang agung ini telah diwarisi secara turun temurun oleh orang-orang shalih dari satu umat kepada umat yang lainnya. Dari satu generasi kepada generasi yang berikutnya. Demikianlah, sampai ajaran rasa malu itu diwarisi oleh pendahulu umat ini yaitu para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Dalam hadits Abu Mas’ud Al-Anshary, ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, disebutkan bahwa Rasulullah  bersabda:
(إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ اْلأُوْلَى: إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ).
“Sesungguhnya termasuk yang masih didapatkan oleh manusia dari ucapan kenabian yang pertama adalah apabila engkau tidak malu, maka lakukanlah apa yang engkau suka.” (HR. Al-Bukhari)

Arti Sebuah Cinta

Penulis: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi 

Cinta bisa jadi merupakan kata yang paling banyak dibicarakan manusia. Setiap orang memiliki rasa cinta yang bisa diaplikasikan pada banyak hal. Wanita, harta, anak, kendaraan, rumah dan berbagai kenikmatan dunia lainnya merupakan sasaran utama cinta dari kebanyakan manusia. Cinta yang paling tinggi dan mulia adalah cinta seorang hamba kepada Rabb-nya.

Rabu, 18 Agustus 2010

Hukum Jimat Bertuliskan Ayat Al-Qur'an


Oleh: Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Azîz bin ‘Abdullâh bin Bâz rahimahullâh
Apakah termasuk syirik, penulisan penangkal/jimat dari ayat Al-Qur’an dan lainnya, serta menggantungkannya di leher1?
Jawab:
Telah shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:
إِنَّ الرُّقَى وَ التَّمَائِمَا وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ
“Sesungguhnya jampi-jampi, jimat, tiwalah2 itu termasuk perbuatan syirik.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Al-Hakim, dan beliau menshahihkannya)

Jimat, Benarkah dalam Agama?




Penulis: Al Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi
Masyarakat kita sesungguhnya sangat paradoksal. Di satu sisi, mereka sangat mengagungkan teknologi (baca: akal) namun di sisi lain, mereka juga masih menggantungkan hidup mereka pada benda-benda yang diyakini memiliki kekuatan tertentu, lepas darimana ‘kekuatan’ itu bersumber. Tentu saja ini menjadi lucu karena manusia mesti tunduk dan menghamba kepada benda-benda mati yang tidak bisa melindungi dirinya sendiri. Mereka justru melupakan Allah Subhanahu wa Ta'ala, Pencipta segala yang mereka sembah itu.

Akhlak Nubuwah Terhadap Anak Kecil


Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu dia berkata:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا وَكَانَ لِي أَخٌ يُقَالُ لَهُ أَبُو عُمَيْرٍ -قَالَ: أَحْسِبُهُ فَطِيمًا- وَكَانَ إِذَا جَاءَ قَالَ: يَا أَبَا عُمَيْرٍ مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ؟ نُغَرٌ كَانَ يَلْعَبُ بِهِ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sosok yang paling mulia akhlaknya. Aku memiliki saudara yang bernama Abu ‘Umair -Perawi mengatakan: Aku mengira Anas berkata: “Kala itu dia sudah memahami ucapan”- Maka apabila beliau shallallahu alaihi wasallam datang, beliau akan bertanya, “Wahai Abu Umair, bagaimana kabar si nughair”. Nughair adalah burung kecil (pipit) yang Abu Umair senang bermain dengannya.” (HR. Al-Bukhari no. 6203 dan Muslim no. 4003)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Keutamaannya dalam Ilmu Tafsir


Penulis: Al-Ustadz Abu Karimah 'Askari bin Jamal
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, yang nama lengkapnya adalah Abul Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Abdussalam bin Abdullah bin Al-Khadhir Al-Harrani Ad-Dimasyqi, adalah seorang alim yang tidak ditemukan seorangpun di zamannya yang setara dengan beliau dalam berbagai hal. Baik dalam hal ilmu, lurusnya aqidah, semangat dalam beramal dan ketekunan dalam beribadah, maupun kesabaran dalam menghadapi berbagai cobaan yang menimpanya. Sosok beliau adalah salah satu di antara tokoh yang merupakan pembenaran terhadap firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ
“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (As-Sajadah: 24)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata menjelaskan ayat ini: “Maka kesabaran dan keyakinan, dengan keduanya akan tercapai kepemimpinan dalam agama.” (Majmu’ Al-Fatawa, 3/358)

Keilmuan Beliau
Secara umum, beliau memiliki kelebihan dalam berbagai cabang ilmu. Hal ini dipersaksikan oleh murid-muridnya dan orang yang pernah bertemu dengannya. Di antara yang mempersaksikannya adalah Al-‘Allamah Ibnu Daqiqil ‘Ied rahimahullahu. Beliau berkata:
“Tatkala aku berkumpul dengan Ibnu Taimiyah, aku melihat seorang lelaki yang semua ilmu ada di hadapan matanya. Dia mengambil apa saja yang dia inginkan dan meninggalkan apa saja yang dia inginkan.”
Demikian pula yang dikatakan oleh Al-‘Allamah Kamaluddin Ibnu Az-Zamlakani rahimahullahu:
“Adalah beliau jika ditanya tentang satu cabang ilmu, orang yang melihat dan mendengarnya menyangka bahwa beliau tidak mengerti kecuali ilmu tersebut –karena sangat menguasai ilmu tersebut, red.–. Orang yang melihat juga menyimpulkan bahwa tidak seorangpun yang memiliki ilmu seperti dia. Jika para fuqaha dari berbagai mazhab duduk bersama beliau, mereka mendapatkan faedah tentang mazhab mereka dari beliau yang tidak mereka ketahui sebelumnya. Tidak pula diketahui bahwa jika beliau berdebat dengan seseorang lalu hujjah beliau terputus (kehabisan dalil, red.). Tidaklah beliau berbicara tentang satu cabang ilmu, baik yang menyangkut ilmu syar’i atau yang lainnya, melainkan beliau mengalahkan orang yang takhassus (spesialisasinya, red.) dalam ilmu tersebut serta yang menisbahkan dirinya kepada ilmu tersebut. Beliau memiliki andil besar dalam membuat karya tulis yang bagus, ungkapan yang indah, sistematis, pembagian (pengklasifikasian), dan penjelasan.” (Al-‘Uqud Ad-Durriyyah, 23-24)
Jamaluddin Abul Hajjaj Al-Mizzi rahimahullahu berkata:
مَا رَأَيْتُ أَحَدًا أَعْلَمَ بِكِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُولِهِ وَلَا أَتْبَعَ لَهُمَا مِنْهُ
“Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih berilmu akan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, serta lebih semangat dalam mengikuti keduanya daripada beliau (Ibnu Taimiyah, pen.).” (Al-‘Uqud Ad- Durriyyah, Ibnu Abdil Hadi, hal. 23)

Kelebihan Beliau dalam Ilmu Tafsir
‘Umar Al-Bazzar berkata dalam kitabnya Al-A’lam Al-’Aliyyah Fi Manaqib Ibni Taimiyah: “Adapun kelebihan ilmunya, di antaranya adalah pengetahuan beliau akan ilmu Al-Qur`an yang mulia, kemampuan menggali faedah yang terkandung di dalamnya, penukilannya atas ucapan para ulama dalam penafsirannya serta menyebutkan penguat-penguatnya dengan dalil-dalil, dan apa yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala anugerahkan berupa keajaiban-keajaiban-Nya dan berbagai hikmah-Nya, kefasihan, kepandaian, yang beliau capai dan puncak ilmu yang beliau bersandar kepadanya.
Jika dibacakan di majelis beliau beberapa ayat dari Al-Qur’an Al-‘Azhim, maka beliau mulai penafsirannya hingga majelis selesai dan pelajaran berakhir dalam keadaan beliau baru menafsirkan sebagian ayat. Adalah majelis beliau berlangsung selama seperempat siang hari. Beliau melakukan hal tersebut secara spontan tanpa ada seorang pembaca ditunjuk untuk membacakan kepadanya sesuatu yang telah ditentukan, yang telah beliau persiapkan penafsirannya di malam hari. Namun orang yang hadir membaca apa yang mudah baginya lalu beliaupun mulai menafsirkannya. Biasanya, beliau tidak menghentikan pembicaraannya melainkan orang-orang yang hadir memahami bahwa kalaulah bukan karena waktu pelajaran telah selesai, tentu beliau akan menyebutkan hal-hal lain yang menjelaskan penafsiran makna yang terkandung di dalamnya. Namun beliau menghentikannya karena melihat kemaslahatan para hadirin. Sungguh beliau telah membacakan tafsir قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ yang termuat dalam satu jilid besar. Juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى yang termuat dalam sekitar 35 lembar kertas. Telah sampai berita kepadaku bahwa beliau memulai mengumpulkan tafsir, sekiranya beliau menyelesaikannya, tentu akan mencapai 50 jilid.” (Al-A'lam Al-'Aliyyah Fi Manaqib Ibni Taimiyah, hal. 2-3, dari Al-Maktabah Asy-Syamilah)
Asy-Syaikh ‘Alamuddin Al-Barzali berkata dalam Mu’jam Syuyuukhihi: “Beliau seorang imam yang telah disepakati keutamaan, kepandaian dan kebenaran agamanya. Dia membaca fiqih dan menjadi pakarnya. Demikian pula ilmu bahasa arab dan ushul. Beliau mahir pula dalam dua cabang ilmu: ilmu tafsir dan hadits. Beliau adalah seorang imam yang tidak terlampaui dalam segala sesuatu. Ia telah mencapai kedudukan mujtahid dan telah terkumpul pada diri beliau syarat-syarat mujtahid. Jika beliau menyebut tafsir maka yang lain terdiam disebabkan banyaknya hafalan beliau dan bagusnya dalam menyampaikan. Dan beliau meletakkan setiap ucapan pada tempatnya yang sesuai dalam men-tarjih, melemahkan, atau membatalkan.” (Al-'Uqud Ad-Durriyyah, hal. 28-29)

Beberapa Faedah Beliau dalam Ilmu Tafsir
Tatkala beliau menjelaskan tentang keutamaan merujuk kepada tafsir salafush shalih dari sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tabi’in, disebabkan karena zaman mereka merupakan zaman di mana kaum muslimin bersatu dan sedikit perselisihan di antara mereka, beliau berkata:
“Oleh karena itu, perselisihan di kalangan para sahabat dalam penafsiran Al-Qur`an sangat sedikit. Meskipun di kalangan tabi’in lebih banyak perselisihan dibanding para sahabat, namun mereka (tabi’in) lebih sedikit jika dibandingkan pada zaman setelah mereka. Setiap kali terdapat zaman tersebut lebih mulia, maka persatuan, kesepakatan, ilmu, dan kejelasan lebih banyak. Di kalangan tabi’in ada yang mengambil semua penafsiran dari para sahabat, seperti yang dikatakan oleh Mujahid rahimahullahu: ‘Aku membacakan mushaf kepada Ibnu ‘Abbas c, aku menghentikannya pada setiap ayat dan aku bertanya tentangnya.’
Oleh karena itu, Ats-Tsauri rahimahullahu berkata: ‘Jika datang kepadamu tafsir dari Mujahid, maka cukupkanlah dengannya.’ Oleh karena itu, Al-Imam Asy-Syafi’i, Al-Bukhari, dan selainnya dari kalangan para ulama rahimahumullah merujuk pada penafsirannya. Demikian pula Al-Imam Ahmad rahimahullahu dan yang lainnya dari kalangan penulis tafsir, sering menyebutkan jalur riwayat dari Mujahid rahimahullahu lebih banyak dari yang lain.” (Syarah Muqaddimah Fi Ushul Tafsir, hal. 25-26)
Beliau juga menjelaskan bahwa sebab-sebab munculnya banyak penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an adalah karena penyimpangan dari tafsir yang telah dijelaskan oleh para ulama salafush shalih, dan bermunculannya kelompok ahli bid’ah yang kemudian menafsirkan ayat-ayat tersebut sesuai dengan hawa nafsunya. Beliau berkata:
“Secara umum, barangsiapa berpaling dari mazhab para sahabat dan tabi’in serta penafsiran mereka, kepada sesuatu yang menyelisihi mereka, maka dia telah terjatuh dalam kesalahan, bahkan dia telah berbuat bid’ah. Adapun jika dia seorang mujtahid, maka diampuni kesalahannya.
Maka yang dimaukan adalah menjelaskan jalan-jalan ilmu, dalil-dalilnya, dan jalan-jalan kebenaran. Kita telah mengetahui bahwa Al-Qur’an telah dibaca oleh para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in. Dan mereka lebih mengetahui tentang penafsiran serta makna-maknanya. Sebagaimana mereka adalah orang yang paling mengetahui tentang kebenaran yang dengannya Allah Subhanahu wa Ta’ala utus Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka barangsiapa yang menyelisihi ucapan mereka dan menafsirkan Al-Qur`an namun menyelisihi penafsiran mereka, maka sungguh dia telah keliru dalam penempatan dalil dan pemahaman.”
Lalu beliau berkata: “Yang diinginkan di sini adalah memberikan peringatan atas munculnya perselisihan dalam penafsiran. Dan bahwa di antara sebab terbesar terjadinya hal tersebut adalah bid’ah-bid’ah yang batil, yang menyeru para pelakunya untuk mengubah ayat-ayat tersebut dari tempatnya, dan menafsirkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sabda Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan selain apa yang dimaukan, serta menakwilkannya bukan pada takwil yang sebenarnya.” (Syarah Muqaddimah Ushul At-Tafsir hal. 125-126)
Demikian pula tatkala beliau menjelaskan tentang kondisi kitab-kitab tafsir yang ada. Beliau mengatakan: “Adapun kitab-kitab tafsir yang ada di tangan manusia, maka yang paling shahih adalah tafsir Muhammad bin Jarir Ath-Thabari. Dia menyebutkan ucapan-ucapan salaf dengan sanad-sanad yang tsabit dan tidak terdapat padanya bid’ah. Dia tidaklah menukil dari orang-orang yang tertuduh (berdusta) seperti Muqatil bin Bukair dan Al-Kalbi. Adapun tafsir-tafsir yang tidak menyebutkan riwayat-riwayat dengan sanad amat banyak, seperti tafsir Abdurrazzaq, ‘Abd bin Humaid, Waki’, Ibnu Abi Qutaibah, Ahmad bin Hanbal, dan Ishaq bin Rahuyah.
Adapun tiga kitab tafsir yang dipertanyakan, maka yang paling selamat dari bid’ah dan hadits-hadits yang lemah adalah tafsir Al-Baghawi. Namun tafsir ini merupakan ringkasan dari tafsir Ats-Tsa’labi di mana Al-Baghawi menghapus hadits-hadits palsu dan bid’ah-bid’ah yang terdapat di dalamnya serta menghapus beberapa hal lain. Adapun tafsir Al-Wahidi, dia adalah murid Ats-Tsa’labi dan lebih berilmu dari gurunya dalam hal bahasa Arab. Namun Ats-Tsa’labi lebih selamat dari beberapa bid’ah, meskipun dia menyebutkannya hanya karena taqlid kepada yang lain. Tafsirnya (Al-Wahidi) singkat, ringkas dan sederhana, terkandung beberapa faedah yang agung, namun banyak terdapat penukilan-penukilan yang batil dan selainnya. Adapun tafsir Az-Zamakhsyari, tafsirnya penuh dengan bid’ah dan sejalan dengan metode Mu’tazilah dalam hal mengingkari sifat-sifat (Allah Subhanahu wa Ta’ala), mengingkari ru’yah (kaum mukminin melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala di akhirat, pen.), menyatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk, dan mengingkari bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak atas segala sesuatu dan menciptakan perbuatan-perbuatan hamba, serta pokok-pokok pemikiran kaum Mu’tazilah yang lainnya.”
Lalu beliau berkata: “Tafsir Al-Qurthubi lebih baik dari tafsir Az-Zamakhsyari dan lebih mendekati jalan orang yang berpegang kepada Al-Kitab dan As-Sunnah, serta lebih jauh dari bid’ah. Meskipun semua kitab ini tetap saja mengandung sesuatu yang dikritik, namun wajib bersikap adil di antara kitab-kitab tersebut dan memberikan setiap hak kepada yang berhak memilikinya. Tafsir Ibnu ‘Athiyyah lebih baik dari tafsir Az-Zamakhsyari dan lebih benar dalam hal penukilan dan pembahasannya serta lebih jauh dari bid’ah meskipun ada pada sebagiannya. Namun jauh lebih baik, bahkan ini adalah kitab tafsir yang paling shahih, (yaitu) tafsir Ibnu Jarir adalah yang paling shahih dari semuanya.” (Majmu’ Al-Fatawa, 13/385-3
Wallahu a'lam bish-shawab.



sumber asysyariah