Tampilkan postingan dengan label BIOGRAFI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BIOGRAFI. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Agustus 2010

Mengenal Al-Fuqaha’ As-Sab’ah (1) (Tujuh Tokoh Ulama dari Madinah)


Madinah An-Nabawiyyah, telah menyimpan banyak kenangan bersejarah yang tidak akan terlupakan dalam sendi kehidupan kaum muslimin. Di sanalah tonggak jihad fi sabilillah mulai dipancangkan di bawah naungan nubuwwah dalam rangka meninggikan kalimat Allah ‘azza wajalla di muka bumi dan memadamkan api kesombongan dan keangkaramurkaan kaum musyrikin.

‘Urwah bin Az-Zubair Tabi’in yang Menjadi Teladan dalam Kesabaran

Sabar dan yakin terhadap ayat-ayat-Nya, dua kunci sukses seseorang meraih kepemimpinan di dalam agama ini, memimpin dan mengarahkan umat kepada jalan yang lurus sesuai dengan rambu-rambu agama yang telah digariskan oleh Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.
Mereka itulah para ulama Rabbaniyyin -yang dengan kesabaran dan keyakinan mereka terhadap ayat-ayat Allah- telah berhasil memimpin umat dari generasi ke generasi untuk berpegang teguh dengan kitab Rabbnya dan sunnah Nabinya berdasarkan pemahaman as-salafush shalih.

Sulaiman bin Yasar Seorang ‘Alim Yang Rendah Hati

Bangga diri terhadap ilmu yang ada pada dirinya, kemudian merendahkan yang lainnya merupakan akhlak orang-orang yang bodoh, walaupun pada hakikatnya dirinya memiliki ilmu yang luas.
Kunyah dan Nama Lengkap Beliau
Beliau adalah Abu Ayyub Sulaiman bin Yasar Al-Hilali Al-Madani. Tentang kunyah beliau ini masih diperselisihkan oleh para ulama, ada yang mengatakan bahwa kunyah beliau adalah Abu ‘Abdirrahman, dan ada yang mengatakan bahwa kunyah beliau adalah Abu ‘Abdillah. Namun yang lebih mendekati kebenaran bahwa kunyah beliau adalah Abu Ayyub. Wallahu a’lam.

‘Ubaidullah bin ‘Abdillah bin ‘Utbah Pendidik Amirul Mu’minin

Salah satu peran ‘Ubaidullah yang sangat menonjol dalam dunia pendidikan adalah beliau merupakan pengajar sekaligus pembimbing Amirul Mu’minin ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz rahimahullah, yang dengan karunia Allah, beliau adalah sosok pemimpin yang peri hidupnya dikenal dalam sejarah Islam merupakan cerminan dari peri hidup empat Al-Khulafa’ Ar-Rasyidin. Begitu kuatnya pengaruh dari pendidikan ‘Ubaidullah ini, sampai-sampai ‘Khalifah yang kelima’ ini pernah mengatakan: “Jika ‘Ubaidullah masih hidup, maka tidaklah aku mengembalikan suatu permasalahan kecuali kepada pendapatnya.”

Kharijah bin Zaid bin Tsabit


Rujukan Umat dalam Ilmu Waris

Putra salah seorang shahabat yang mulia, Zaid bin Tsabit ini adalah imamnya kota Madinah yang meneruskan ilmu fiqh setelah wafatnya para shahabat Rasulullah di kota tersebut. Namanya disejajarkan dengan nama-nama besar semisal Sai’d bin Al-Musayyib, ‘Urwah bin Az-Zubair, dan yang lainnya.

Ali bin Al-Husein Zainal Abidin (Wafat 93 H)


Nama sebenarnya adalah Ali bin al-Husein bin Ali bin Abi Thalib, neneknya adalah Fatimah az-zahra binti Rasulillah, terkadang ia disebut dengan Nama Abu Husein atau Abu Muhammad, sedangkan nama panggilannya adalah Zainal abidin dan As-Sajad, karena kebanyakan melakukan shalat dimalam hari dan di siang hari.
Perjalanan hidupnya.

‘Atha` Bin Abi Rabah


“Saya tidak melihat orang yang mencari ilmu karena Allah, kecuali tiga orang yakni: ‘Atha’, Thawus, dan Mujahid.” Salamah bin Kuhail
Kita sekarang memasuki sepuluh hari terakhir bulan Dzul Hijjah tahun 97 H. Dan rumah tua (Ka’bah) ini disesaki oleh tamu-tamu Allah dari segala penjuru; para pejalan kaki dan para pengendara, Tua dan muda, Laki-laki dan perempuan, berkulit hitam dan putih; orang arab dan non Arab serta tuan dan ada yang dipertuan alias rakyat. Mereka semua telah datang menghadap Raja manusia dengan khusyu’ seraya bertalbiyah dan mengharapkan pahala Allah.

Aisyah Binti Thalhah (wafat 110H)


Abu Zur’ah ad-Dimasyqi: “Aisyah binti Thalhah adalah seorang wanita mulia. Ia mendapatkan hadits dari Aisyah Ummul Mukminin.”
al-`Ajliy: “Aisyah binti Thalhah seorang wanita Madinah, seorang tabiin dan tsiqah (terpercaya dalam riwayatnya).”
Al-Mazziy: “Tidak ada wanita yang lebih pandai dari murid-murid Aisyah Ummul-mukminin; Amrah binti Abdur-Rahman, Hafshah binti Sirin dan Aisyah binti Thalhah.”

Abu Muslim AL-Khaulani, Abdullah bin Tsuaib


Adalah al-Aswad al-‘Ansi seorang yang begitu kuat, bertubuh kekar, berkulit hitam. Di masa Jahiliyah  banyak kejahatannya ia adalah seorang yang mumpuni dalam perdukunan, mahir dalam melakukan sihir atas manusia.
Di samping itu pula ia adalah orang yang fasih lisannya, mengagumkan penjelasannya, pengkaui, mampu mempermainkan akal orang-orang awam dengan kebathilan-kebathilannya dan mampu menarik loyalitas orang-orang khusus dengan hibah dan pemberiannya.

Imam al-Nasa’i (215-303 H)


Nama lengkap Imam al-Nasa’i adalah Abu Abd al-Rahman Ahmad bin Ali bin Syuaib bin Ali bin Sinan bin Bahr al-khurasani al-Qadi. Lahir di daerah Nasa’ pada tahun 215 H. Ada juga sementara ulama yang mengatakan bahwa beliau lahir pada tahun 214 H. Beliau dinisbahkan kepada daerah Nasa’ (al-Nasa’i), daerah yang menjadi saksi bisu kelahiran seorang ahli hadis kaliber dunia. Beliau berhasil menyusun sebuah kitab monumental dalam kajian hadis, yakni al-Mujtaba’ yang di kemudian hari kondang dengan sebutan Sunan al-Nasa’i.
Pengembaraan intelektual

Imam At-Tirmidzi (209-279 H)


Nama lengkapnya adalah Imam al-Hafidz Abu ‘Isa Muhammad bin ‘Isa bin Saurah bin Musa bin ad-Dahhak As-Sulami at-Tirmidzi, salah seorang ahli hadits kenamaan, dan pengarang berbagai kitab yang masyur lahir pada 279 H di kota Tirmiz.
Perkembangan dan Perjalanannya

Imam Abu Dawud


Beliau lahir sebagai seorang ahli urusan hadits, juga dalam masalah fiqh dan ushul serta masyhur akan kewara’annya dan kezuhudannya. Kefaqihan beliau terlihat ketika mengkritik sejumlah hadits yang bertalian dengan hukum, selain itu terlihat dalam penjelasan bab-bab fiqih atas sejumlah karyanya, seperti Sunan Abu Dawud.

Abu Hanifah (wafat 150 H)


Nama sebenarnya adalah An-Nu’man bin Tsabit bin Zutha. Ia bekas hamba sahaya Taimullah bin Tsa’labah al-Kufi. Ia berasal dari Persia.
Abu Hanifah seorang Tabi’in karena pernah melihat beberapa sahabat seperti Anas bin Malik, Sahl bin Sa’ad as-Sai’di, Abdullah bin Abi Aufa dan Abu Thufail Amir bin Watsilah.

Imam Bukhari (194-256H)


Negeri Bukhara sebagai negeri muara sungai Jihun yang terletak di sebelah utara Afghanistan dan sebelah selatan Ukraina adalah negeri yang banyak melahirkan imam-imam Ahlul hadits dan Ahlul fiqh. Negeri itu menyimpan kenangan sejarah perjuangan para imam-imam Muslimin dalam berbagai bidang ilmu-ilmu Al-Qur’an dan Al-Hadits. Dapat disebutkan di sini, para Imam Ahlul Hadits yang lahir dan dibesarkan di negeri Bukhara antara lain adalah: Al-Imam Abdullah bin Muhammad Abu Ja’far Al-Musnadi Al-Bukhari yang meninggal dunia di negeri tersebut pada hari Kamis bulan Dzulqa’dah tahun 220 H. dan kemudian juga lahir di Bukhara, Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim Al-Bukhari yang lahir pada tahun 194 Hijriyah dan wafat pada tahun 256 H di sebuah desa bernama Khortanak menuju arah Samarkan. Juga lahir dan dibesarkan di negeri ini Al-Imam Abi Naser Ahmad bin Muhammad bin Al-Husain Al-Kalabadzi Al-Bukhari yang lahir tahun 323 H dan meninggal tahun 398 H. dan masih banyak lagi deretan para imam-imam besar Ahli hadits yang menghiasi indahnya sekarah negeri Bukhara.

Imam Muslim (206-261 H)


Nama lengkapnya ialah Imam Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz al Qusyairi an-Naisaburi. Ia juga mengarang kitab As-Sahih (terkenal dengan Sahih Muslim). Ia salah seorang ulama terkemuka yang namanya tetap dikenal hingga kini. Ia dilahirkan di Naisabur pada tahun 206 H. menurut pendapat yang sahih sebagaimana dikemukakan oleh al-Hakim Abu Abdullah dalam kitabnya ‘Ulama’ul Amsar.*

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Beliau adalah Pembaharu Islam (mujadid) pada abad ini. Karya dan jasa-jasa beliau cukup banyak dan sangat membantu umat Islam terutama dalam menghidupkan kembali ilmu Hadits. Beliau telah memurnikan Ajaran islam terutama dari hadits-hadits lemah dan palsu, meneliti derajat hadits.

Syaikh Muqbil bin Hadi

Print
Imaam, Syaikhul Islaam, Al-`Allaamah, dan Muhaddits, Abu Abdir-Rahmaan Muqbil bin Haadii Al-Waadi`ii dilahirkan dan dibesarkan di sebuah lingkungan Zaidiyah (salah satu sekte Syi`ah) yang bercirikan tasawuf, mu`tazilah dan berbagai bid`ah lainnya.
Seperti para pendahulunya di Yaman, semisal Muhammad bin Ibraahiim Al-Waziir, Shaalih bin Mahdii Al-Muqbilii, Muhammad bin Ismaa`iil Al-Amiir (pengarang kitab Subulus-Salaam), Muhammad bin Ali Asy-Syaukaanii, akhirnya beliau meninggalkan madzhab Zaidi. Alasan kepergian mereka dari bid`ah dan kemudian mendekat kepada sunnah adalah sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Imam Muqbil sendiri karena mereka belajar dan datang untuk mengetahui apa yang ada di dalam (madzhab ini), kemudian mereka melihatnya jauh (menyimpang) dari Al-Quran dan As-Sunnah (shallallaahu alaihi wa sallam) (Maqtal Syaikh Jamiilur-Rahmaan, hal. 6).

Minggu, 22 Agustus 2010

Rembulan di Langit Zaman

Generasi terbaik umat ini adalah para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah sebaik-baik manusia. Lantas disusul generasi berikutnya, lalu generasi berikutnya. Tiga kurun ini merupakan kurun terbaik dari umat ini. Dari Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhuma, bahwa dia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
خَيْرَ أُمَّتِـي قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
“Sebaik-baik umatku adalah pada masaku. Kemudian orang-orang yang setelah mereka (generasi berikutnya), lalu orang-orang yang setelah mereka.” (Shahih Al-Bukhari, no. 3650)

Sejarah Hidup Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Penulis: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Ahli bid’ah dan ahlul batil senantiasa memiliki kepentingan dan ambisi di bawah payung kebid’ahan mereka. Setiap kali muncul ulama As-Sunnah yang menghadang mereka maka runtuhlah kepentingan dan ambisi tersebut. Sehingga merekapun berusaha menjauhkan kaum muslimin dari ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Minggu, 15 Agustus 2010

Mutiara Berkilau dari Bukhara (Biografi Al Imam Al Bukhari)

Bapak beliau yaitu Ismail meninggal, dalam keadaan beliau masih kecil. Dan beliau juga mengalami kebutaan semasa kecilnya. Namun ibunya terus menerus berdoa kepada Allah Ta’ala mengharapkan kesembuhan terhadap musibah kebutaan yang menimpa putra tercintanya.
Dan Allah Ta’ala pun mengabulkan permintaan dari sang hamba yang shalehah dengan memberikan kesembuhan kepada sang putra tercinta.